Selasa, 27 November 2012

Kejujuran.....is it still exist?

Yang ingin gw tulis saat ini adalah tentang kejujuran.


Kejujuran.


Satu kata yang simpel dan gak sulit untuk dipahami, tapi sangat sulit untuk melakukannya. Sangat sulit untuk menemukan orang yang masih menganut paham dari kata itu sebagai ideologinya, sebagai bagian dari hidupnya. Apalagi di saat-saat sekarang ini, ketika kebanyakan orang terlalu egois untuk mengatakan suatu kejujuran, terlalu jaim dan terlalu ingin terlihat sempurna di mata orang-orang tertentu sehingga dia tidak berkata jujur.


Disini gw ga akan mengganti BOHONG melainkan GAK JUJUR. 


Karena kata BOHONG terlalu sakit untuk dilihat dan dibaca (terutama untuk gw sendiri), jadi lebih baik gw ganti dengan kata yang lebih halus :)


Yah .... kita gak bisa menilai seseorang hanya dari 1 sisi, dan gw percaya itu ..

Mungkin seseorang itu bukan lah orang yg gak jujur, hanya aja ada sesuatu dlm dirinya yang ingin dia tutupin, entah karena apa hanya dia dan Tuhan lah yang tau..

Dan kamu tau sendiri kan gimana rasanya ketika seseorang tetap mengatakan kata" gak jujur itu kepada kalian, ketika kita sebelumnya udah tau fakta sebenarnya? Mungkin sih biasa aja kalo orang itu bukanlah siapa-siapa.. Tapi lain halnya kalau itu adalah orang yang berarti bagi kamu. :)

Sudah cukup banyak gw ngedenger ketidakjujuran dari banyak orang.Dan gw juga gak gitu aja percaya, tentunya dengan trik rahasia dan koneksi yang lancar #eaaaaa , gw tau fakta sebenarnya. Apa sih yg Maya gak tau? hahaha (bakat jadi detektif nih)

Sebenarnya sih gw lebih suka kalo jujur" aja sama gw. .Apalagi kalo orang yang berbelit" padahal keinginannya yang itu" juga haduuh .. jelasin aja maksud dan tujuannya apa, nah kan enak ya  gak? Daripada gak jujur gitu kan pasti akhirnya juga ketahuan dan merasa bersalah sendiri :)

sebenarnya sih banyak isi kepala yang mau ditulis dan dipost, tapi kok makin lama makin ngaco ya? hahahaa ya udah deh lanjut kapan" aja

Salam sayang
Bye :*


Senin, 26 November 2012

Olimpiade Akuntansi 4 se-Provinsi Jambi presented by Himatansi UNJA

Nih, gw mau ngasih kalian berita tentang acara Olimpiade Akuntansi ke-4 se-Provinsi Jambi yang diadain sama Himpunan Mahasiswa Akuntansi Universitas Jambi dan berlangsung dengan sangat sukses :D
Here we go ...



"TRIBUNJAMBI.COM, MUARO JAMBI- Himpunan Mahasiswa Akuntansi (Himatansi) Fakultas Ekonomi Universitas Jambi (Unja), menggelar Olimpiade Akuntansi ke 3 di Aula Gedung Rektorat Lantai 3 Unja Mendalo, Sabtu (26/11).

Ketua Panitia Pelaksana, Ronald N Girsang, kepada Tribun di sela-sela kegiatan menuturkan bahwa olimpiade akuntansi tahunan ini diikuti 77 peserta dari 14 SMA/MAN se-Kota Jambi dan Kecamatan Jambi luar kota.

Tujuan dari penyelenggaraan olimpiade tersebut katanya untuk menjalin hubungan antara Unja dengan lembaga akuntansi yang ada di sekolah-sekolah. "Selain untuk menjalin hubungan, olimpiade ini juga bertujuan menjaring bibit-bibit baru di bidang akuntansi, sehingga harapan kita akan muncul generasi baru di bidang akuntansi," ujarnya.

Untuk kegiatan olimpiade ini lanjutnya, akan berlangsung selama dua hari yaitu Sabtu dan Senin (28/11) mendatang, di mana pada Sabtu ini merupakan babak penyisihan. Untuk babak penyisihan sendiri kata Ronald, tiap peserta diharuskan menjawab 75 soal pertanyaan yang telah disediakan panitia dalam kurun waktu 2,5 jam.

Untuk materi soal pada babak penyisihan ini lanjutnya, meliputi materi pelajaran IPS terpadu yaitu yang berisi tentang pelajaran Geografi, Sejarah dan Ekonomi dengan prosentase sebanyak 33 persen. Sedangkan materi lainnya meliputi Matematika juga dengan komposisi sekitar 33 persen, sisanya materi pelajaran Akuntansi.

"Jadi nanti dari 77 peserta ini akan kita saring menjadi 20 besar untuk masuk ke babak selanjutnya yang akan kita laksanakan pada Senin besok," terangnya.

Nantinya dari 20 peserta itu akan disaring lagi menjadi lima besar yang akan masuk ke babak final, yang juga akan dilaksanakan pada hari yang sama. Sedangkan materi soal untuk peserta yang masuk ke dalam babak 20 besar adalah materi akuntansi, tetapi di babak ini peserta diharuskan mengerjakan lima soal yang kesemuanya berupa soal esai.

Sedangkan di babak final nanti kata Ronald, materi soal merupakan bedah kasus, sehingga masing-masing finalis akan mendapat pertanyaan tentang kasus akuntansi yang kerap terjadi. "



Well, begitulah kira" kegiatan yang sudah kami buat untuk menyalurkan bakat siswa" SMA se-Provinsi Jambi khususnya di bidang Akuntansi. Dan untuk semakin memotivasi mereka untuk tetap berkarya sebagai penerus bangsa ini, tentunya.

Dan untuk tahun depan tentunya, kami akan mengadakan Olimpiade Akuntansi 5. Dan pastinya akan lebih sukses dan besar dari sebelumnya, dan direncanakan akan diadakan se-Sumatera, InsyaAllah :)
Doakan saja ya, Salam Himatansi ! :D


Rabu, 19 September 2012

The most important in life..

Hal yang paling berharga dan tak ternilai di dunia ini adalah mempunyai keluarga yan lengkap dan HARMONIS. Keluarga adalah hal yang paling utama bukan dalam hidup manusia? Selain Allah tentunya. Keluarga adalah tempat kita bersandar setelah kita lelah menghadapi berbagai masalah yang ada. Tempat kita mendapat semangat baru untuk tetap menjalani kehidupan. Tempat orang" terdekat dalam hidup kita berada. Dari kecil kita tumbuh bersama keluarga dan itulah yang membangun karakter dan cara kita dalam memberi feedback atas apa yang telah dilakukan orang lain.

Tapi apa yang terjadi kalau ternyata, kehilangan 1 anggota dalam sebuah keluarga, merubah keadaan menjadi 180 derajat? Bagaimana juga kalau ternyata keluarga yang seharusnya menjadi orang yg paling dekat dalam hidup kita, keluarga yg paling mengenal kita, terrnyata malah menjadi sumber masalah utama dalam hidp kita? Yang seharusnya menjadi tempat kita bersandar, menjadi menakutkan karna adanya orang yg gak bertanggung jawab di situ. Apalagi ketika keluarga yang lain, menyalahkan orang yg gak bersalah apa2 dalam keluarga itu, akibat ulah seseorang yang gak bertanggung jawab itu?

Tentu saja kita bisa sedih, marah, kesal, atas apa yang terjadi , menyalahkan keadaan yang ada, menyalahkan orang" lain atas apa yang terjadi di hidup kita. Dan menyalahkan orang" itu dengan alasan kelakuan nakal kita diakibatkan oleh mereka.

Tapi semua itu adalah pelajaran buat kita, agar kita gak mengulangi keadaan yang seperti itu, agar kita gak mengulangi kesalahan yang pernah ada. Yang harus kita lakukan hanyalah tetap berdoa kepada Allah , dan berusaha untuk menjadi seseorang yang dapat mengubah keadaan menjadi lebih baik. Bukannya lari dari masalah dan akhirnya sama! Kalo kita lari dari masalah , itu artinya kita gak bertanggung jawab, dan kalo kita gak bertanggung jawab, itu artinya kita sama aja dengan orang" yang menyebabkan masalah di sekitar kita itu. Sama aja, bukannya memperbaiki masalah yang ada, kita hanya bisa membuat anggota keluarga yang lain sedih dan kecewa. 

Tentu saja kita juga harus intropeksi diri kita, agar kita gak menjadi terlalu sombong dan merasa hidup kita terlalu berat, karena setiap manusia pasti punya masalahnya masing :')

Minggu, 09 September 2012

Video cover Secondhand Serenade - Your Call by Maya & Yoan

Jadi kan ceritanya nih, akhir2 ini lagi gak ada kerjaan banget. Well, akhirnya ngajak yoan buat bikin sesuatu yang (sedikit) produktif, haha. Yah akhirnya kami nongkrong di rumah gw sambil nyanyi2 main gitar. Eh kepikiran, kenapa gak bikin video cover aja. Lumayan daripada bengong, wkwkw. Dan kebetulan kami punya temen yang jagoo banget di bidang video capturing, musik, dan berambisi bikin home production nya sendiri. *Jeng Jeng Jeeeeeeeng* *suara latar* Please welcome, Chandra! haha


Walaupun dengan skill gitar dan vokal kami yang pas2an (banget), but this is our passion. So keep supporting on us ya :)


ini videonya :

Masa remaja tanpa patah hati



Banyak yang bilang, bahkan sampe ada penelitiannya, kalau dimasa remaja (atau bisa dibilang puber) ini kita pasti jadi tertarik dengan lawan jenis dan itu dikarenakan hormone kita (oke, kita salahkan hormone aja disini). Karna itulah cowo2 berubah dari yang suka manjat2 pohon, maling buah mangga di rumah tetangga, jadi sosok yang diam aja pura2 gak liat kalo ada temennya yang memalukan, malu pergi dianter sama mamanya, atau bisa dibilang sebagai cowok yang *sok* COOL. Kenapa harus COOL? Karena mungkin di kamus cewe2 remaja sekarang itu COOL adalah kata2 nomor 1 di kategori “cowok idaman”. Tapi gak bisakah mereka bedain mana yang COOL dan mana yang ngesok? Yeah , kalo gw sih prefer sama cowo yang ramah dan peduli sesama J Nah tapi ini juga menjebak loh. Banyak juga yang didepan orang tua atau di hadapan orang2 tertentu dia kelihatan baik banget tapi sebenarnya gak kaya gitu. Ini nih yang bisa dibilang serigala berbulu domba. Hati-hati terjebak dalam tipu muslihatnya yang lebih lihai dari Dedy Cobuzer -___-


Kenapa sih harus ada perasaan patah hati? Kenapa Tuhan harus menciptakan perasaan yang gak mengenakkan kaya gitu? Maksud gw, kenapa sih semua orang gak bisa selalu ceria dan riang gembira? Dan kenapa di dunia ini harus ada cowok brengsek, atau cewek jutek? Tapi setelah dipikir2, kalau kita gak pernah patah hati, kita gak akan pernah merasakan indahnya jatuh cinta itu seperti apa. Bukankah kita bisa menikmati matahari jika kita sudah merasakan hujan selama berhari2? (oke gak sih perumpamaan gw?). Jadi gw rasa patah hati sekali-kali bolehlah.


Omong2 soal masa remaja tanpa patah hati, mungkin asik juga ya kalo masa remaja tanpa sekolah/kuliah? Hmm tunggu, kuliah kan menyenangkan juga kadang2. Terutama waktu dapat nilai A, waktu nongkrong di kantin sama temen2, dan oya, juga waktu terpilih jadi gadis akuntansi, yang aku gak nyangka banget karna saingannya cantik2 -__-
Oke ngomong2 soal cantik, walau kadang kagum dan iri lihat cewe yang cantik banget, tapi kadang shock saat cewe cantik itu bahkan minta gw untuk ngartiin kata2 “ I love you forever. Don’t ever forget me forever, honey” yang dikirimin pacarnya buat dia, saat cewe cantik itu minta buatin email karna dia gak tahu caranya sedangkan hp yang dia pegang itu Blackberry, saat cewe cantik itu bahkan gak bisa bedain kata2 ‘ospek jurusan’ sama ‘ospek universitas’. wow shiiiiiitttt, mungkin emang ada kali yah yang namanya otak di dengkul (tapi otak gue tetep di kepala kok, tenang aja slow). Jadi yang namanya hal2 fisik itu, itu udah anugerah Tuhan yang gak bisa kita ubah. Lebih baik focus sama sesuatu yang bisa kita ubah, dan itu banyak banget, misalnya wawasan , pengetahuan, ilmu, skill, kebaikan hati, dll yang bisa kita pelajarin darimana aja. Dunia ini adalah sebuah buku yang gak akan pernah habis buat dibaca. 

Oke mungkin masa remaja tanpa patah hati dan tanpa sekolah/kuliah itu gak mungkin.

Bagaimana dengan masa remaja tanpa pacar? Hmm itu kayaknya lebih sulit, tapi oke banget kok. Banyak yang bilang dengan punya pacar itu keren. Tapi apa akibatnya kalau punya pacar itu hanya buat kamu penuh masalah? Bertengkar dengan temen, hanya mikirin penampilan, galau tengah malam karna sms gak dibales, takut pacarnya ditikung orang, dimarahin mama, gak konsentrasi di kelas, pulsa sering sekarat karna telfonan terus tiap hari, bahkan lebih parah : depresi karena patah hati!


Wah itu malah gak keren banget dong. Menurut gw, gak apa-apa kok kalo kalian gak punya pacar di SMP, SMA atau kuliah. Masih banyak hal lain yang bisa kita lakukan, seperti belajar, ekskul, main gitar, ikut berorganisasi di sekolah/kuliah, mengasah bakat kalian, dan mencari teman sebanyak-banyaknya. Jujur loh, kalo pacaran kalian gak akan bebas ngelakuin semua itu, ada aja deh yang bikin kalian gak bisa, gak asik deh pokoknya!


Masa remaja tanpa HP? Tanpa Blackberry? Tanpa gadget kaya kamera dengan lensa sebesar termos yang selalu dibawa kemana2, dengan tablet yang selalu setia ditenteng lengkap sama case nya? Kayanya itu gak mungkin banget deh, mungkin udah tuntutan era globalisasi kali yah? Hahaha

Oke deh cukup bicara ngaco kali ini. Bubye , hope to see you again someday!

Bad moment ...


Banyak banget hal dan kejadian yang terjadi di hidup  gw. Mungkin kalo hidup itu bisa diibaratin sebuah film, dan film itu dalam skala bintang 1-5, film hidup gue bintang 4 kali yah. Iri banget kalo liat hidupnya Aisyah, datar2 aja, gak ada yang namanya masalah2 keluarga/temen/pacar/org2 lain. Karna dia juga orangnya gak macem2, datar2 aja. Beda banget sama gw yang kayaknya ngundang masalah dan kesialan -____-


Kalo lagi badmood kaya gini pasti bingung mau nulis apa, bawaannya kesel dan sedih aja. Rasanya pengen marah sama semua orang. Well, Alhamdulillah sekarang gw bisa lebih mengendalikan emosi supaya gak ngambek, marah2, atau cengeng lagi.Yang gw bisa Cuma diam. Walaupun diam itu gak meredakan masalah yang ada, setidaknya diam itu gak pernah menimbulkan ataupun memperparah masalah yang ada. Is that alright?

Yah, walaupun gw tau, banyak orang yang hidupnya pasti lebih berat daripada gw. Tapi sebagai manusia, kita pasti pernah kan ngerasa kalo kita itu orang yang paling sial di dunia ini, dan gak ada yang ngelarang kita buat ngerasa seperti itu kan? Human have a right for freedom of speech and think, doesn’t it? Dan juga perasaan seperti itu gak setiap hari kita alamin, karna walaupun sebentar, pasti ada setitik kebahagiaan yang kita rasain di sela2 kesedihan kita itu. Misalnya bagi : ada temen yang nemenin hang out ngelepasin suntuk, ada iPod yang setia nemenin di kala sendiri, ada sepupu yang baik banget, yang mau ngelakuin apa aja buat gw supaya gw gak sedih. Special thanks banget dehJ

Senin, 02 Juli 2012

Chicken soup of couple soul


Sekarang gw mau ceritain tentang salah satu buku yang gw suka juga, Chicken Soup. Kalian pasti udah pernah dengar kan? Buku ini bagus banget buat menyemangati kita yang sedang putus asa dan kehilangan arah. Melihat suatu masalah dari kacamata orang lain dan memberitahu kita agar tidak melakukan kesalahan yang sama yang ada di cerita orang2 di dalam buku itu.

Dari judulnya, sudah bisa diperkirakan kalau isinya tentang pasangan. Membaca buku ini membuat kita masuk ke dunia yang penuh cinta sejati. Jadi kalau tidak percaya cinta sejati antarmanusia, mendingan buruan baca buku ini. Seperti halnya buku-buku Chicken Soup lainnya, buku ini merupakan kumpulan kisah-kisah. Sekarang gw akan menceritakan dua kisah yang menurut saya cukup menarik. Yah sengaja cukup dua saja, biar penasaran dengan kisah–kisah lainnya yang tak kalah menarik. hehe :D

Kisah yang pertama tentang sepasang suami istri. Sang suami sedang sekarat dan tidak lama lagi akan meninggal. Selama hidupnya sang suami tak pernah sekalipun mengucapkan I love you pada istrinya. Dia hanya membantu dan melindungi sang istri tersebut. Sang istri adalah seseorang yang sering teledor, dia selalu keliru mengenakan cincin kawin dan cincin pertunangan. Si suamilah yang selalu membetulkannya sebagai bukti sayangnya. Ketika sang suami sedang sekarat, sang istri menungguinya, berharap ada pesan terakhir yang akan disampaikan oleh suaminya dalam tidur panjangnya. Dalam ketidaksadarannya alias koma, sang suami tersebut masih sempat-sempatnya membetulkkan letak cincin di jari istrinya dan ternyata itulah pesan terakhirnya.


Kisah yang kedua, ada seorang perempuan dan suaminya menghabiskan waktu mereka duduk-duduk sambil ngobrol di semacam resto. Perempuan ini bernama Anne dan suaminya bernama Bill. Dari mejanya Anne bisa melihat ada sepasang suami istri lansia sedang duduk berdua di sudut resto, mereka tidak melakukan apa-apa, hanya menikmati hidangan yang ada di hadapan mereka. Pasangan lansia itu juga tidak sedang membicarakan apa-apa. Anne berpikir, sungguh aktivitas yang membosankan sampai-sampai mereka tidak tahu ngomong apa. Dalam hati Anne tidak ingin ketika dia dan suaminya sudah tua, mereka seperti itu. Ketika akan pergi dari resto tersebut Anne melewati meja pasangan tersebut, dan tanpa sengaja dompetnya terjatuh di dekat meja mereka. Ketika dia membungkuk untuk mengambil dompet itu, dia melihat bahwa sepasang lansia tersebut sedang saling menggenggam tangan dibawah meja. Anne jadi paham kenapa mereka berdua diam, karena diam mereka perwujuda dari merasa nyaman satu sama lain.


Dari dua cerita ini kentara banget cinta itu nggak harus diucapkan secara lisan apalagi sampai teriak-teriak di lapangan atau lari nabrak-nabrak seperti di film India :D . Cukup dibuktikan dengan perbuatan. Mengutip sebuah ungkapan, apa yang dari hati pasti tembus ke hati *insyaallah :)
Untuk yang penasaran dengan berbagai kisah yang lain, silakan baca bukunya. Bisa pinjam temen, di perpus, numpang baca atau beli di toko buku terdekat :D

Byee ^_^

Sabtu, 30 Juni 2012

review 7 Habits of Highly Effective Teen (lagi)

Disini, gw akan review dan memberi sedikit ringkasan dari salah satu buku favorit gw yang pasti bisa membuat kalian semangat dalam menjalani kehidupan yang keras ini. Happy reading :)
 
Dalam buku The 7 Habits Of Highly Effective Teens karya Sean Covey, ada 7 kebiasaan yang bisa kita biasakan agar bisa menjadi orang yang sukses. Kebiasaan akan mempengaruhi hidup kita, karena itu mari kita latih dan perbaiki kebiasaan kita, karena kebiasaan akan menentukan sukses atau tidaknya diri kita masing - masing.

Kebiasaan 1 : Jadilah Proaktif
Jadilah Proaktif adalah kunci untuk membuka kebiasaan yang lain. Kebiasaan 1 membahas bahwa kita lah sumber motivasi menuju kesuksesan kita masing - masing.kita yang mengemudikan kemana kita akan pergi. Kita yang bertanggung jawab atas kebahagian atau ketidakberhasilan kita masing masing.
Bersikap proaktif adalah bagaimana kita menentukan sikap kita terhadap segala hal yang terjadi di sekitar kita. Kita manusia memiliki akal untuk memilih untuk bersikap negatif (reaktif) atau sebaliknya bersikap positif (proaktif) terhadap keadaan sekeliling kita. Bersikap proaktif adalah cara bagaimana kita mengendalikan hidup kita, bukan malah hidup kita yang mengendalikan sikap kita.
Cara untuk memahami bahwa kita bersikap proaktif yaitu dengan kita membandingkan dengan sifat reaktif.
Dari sana, kita pasti akan memahami apa yang seharusnya kita lakukan. Kita bisa memilih pilihan reaktif dan membiarkan perasaan kita kacau. Atau  bisa bersikap proaktif dan melanjutkan hidup kita tanpa perasaan yang kacau akibat sikap reaktif kita. Dengan bersikap proaktif kita telah mengendalikan hidup kita dengan bersikap sesuai dengan hati nurani kita.
Banyak manfaat bersikap proaktif, antara lain :
1.        Tidak lekas tersinggung.
2.        Bertanggungjawab terhadap pilihannya sendiri.
3.        Berpikir sebelum bertindak.
4.        Cepat pulih kalau terjadi sesuatu yang buruk.
5.        Selalu mencari jalan untuk menjadikan segalanya terlaksana.
6.        Fokus pada hal-hal yang bisa mereka ubah, bukan malah mengkhawatirkan hal yang tidak bisa diubah.
Inti dari sikap proaktif adalah dua hal, yaitu kita bertanggungjawab terhadap hidup kita, dan bersikap “aku bisa”. Hal ini sesuai dengan kalimat “orang-orang yang berprestasi jarang duduk-duduk menantikan segalanya terjadi pada mereka. Mereka berbuat dan menjadikan semuanya terjadi. Orang-orang yang berhasil dalam dunia ini adalah orang-orang yang bangkit dan mencari keadaan yang mereka inginkan, dan apabila tidak menemukan keadaan tersebut, mereka akan menciptakannya.”




Kebiasaan 2 : Merujuk Pada Tujuan Akhir
Kebiasaan 2, Merujuk Pada Tujuan Akhir atau Mulai dengan Mengingat Tujuan Akhir kita, adalah cara bagaimana mendapatkan gambaran yang jelas mau ke mana dalam hidup ini. Artinya memutuskan apa saja nilai-nilaimu dan menetapkan sasaran akhir. Apabila kebiasaan 1 mengatakan kita sebagai pengemudinya, maka kebiasaan 2 memerintahkan untuk menentukan ke mana kita akan menuju.
Mengapa begitu penting untuk mempunyai tujuan akhir? Sean Covey mengatakan bahwa ada dua alasan, yaitu karena kita ada dalam persimpangan, sehingga jalan yang akan kita pilih akan mempengaruhi kita selamanya. Alasan kedua adalah bahwa jika kita tidak menentukan masa depan kita sendiri, maka orang lain yang akan memutuskannya. Jadi pilih mana antara masa depan pilihanmu sendiri atau masa depan pilihan orang lain?
Dalam hidup kita, kita memiliki banyak jalan untuk melakukan sesuatu.  Kita juga memeiliki banyak jalan untuk menentukan kemana kita akan berjalan. Di dalam melakukan sesuatu ataupun juga dalam menentukan arah jalan, itu akan mempengaruhi jalan hidup kita masing – masing.
alam hidup, kita sendirilah yang seharusnya mengendalikan takdir kita. Mungkin orangtua, teman atau siapapun, apakah kita mau mereka untuk menentukan takdir kita? Tentu tidak bukan? Karena itulah kita yang harus bertanggungjawab atas seluruh hidup dan takdir kita. Tanpa tujuan akhir, kita sering kali akan mengikuti orang lain yang mau memimpin, meskipun yang dikerjakan sama sekali tidak bermanfaat bagi kita.
Untuk menjamin kita memiliki tujuan akhir, salah satu cara menemukannya adalah dengan menuliskan pernyataan misi pribadi. Pernyataan misi ini adalah pernyataan mengenai apa yang akan kita lakukan dalam hidup kita, apa saja yang perlu dicapai, selayaknya sebuah cetak biru hidup kita. Pernyataan ini terserah bagaimana bentuknya, baik panjang, pendek, berbentuk esai atau puisi, yang penting tujuan hidup kita tertuang di dalamnya. Pernyataan misi ini seperti pohon dan akar-akarnya yang dalam, tidak bergerak, akan tetapi terus bertumbuh.
Kesalahan terbesar dalam pembuatan pernyataan misi ini ada dua. Yang pertama, para remaja biasanya membuang waktu untuk menyempurnakannya sebelum memulainya. Seharusnya kita segera melakukan meskipun belum sempurna, kemudian dalam proses itu sempurnakan sedikit demi sedikit. Lalu pernyataan misi ini tidak perlu sama dengan orang lain. Cukup tuliskan sesuatu yang dapat menggambarkan diri kita, maka itulah diri kita yang sebenarnya, pernyataan misi kita sendiri.
Selanjutnya adalah menemukan talenta-talenta kita. Apa sih yang kamu berbakat di dalamnya? Apa yang membuatmu dapat melakukannya dengan senang hati? Tidak perlu bakat seperti suara merdu atau pintar olahraga. Bisa saja bakatmu sepele seperti pandai membuat orang tertawa, selalu bersikap ramah, atau bahkan bisa menyanyi dengan bersiul sepanjang hari. Yang penting itu adalah bakat aslimu dan tidak dibuat-buat. Kita hanya harus mendeteksi talenta kita, bukannya menciptakan yang tidak kita punyai.
Ada beberapa cara untuk mengejar sasaran itu, antara lain :
1.        Hitung biayanya, yaitu kamu harus menghitung biaya yang harus kamu bayar untuk mencapainya. Misalnya, kamu ingin pandai berolah raga, kamu harus lebih sering berlatih dan mempelajari olahraga yang kamu sukai. Di samping itu, kamu harus rela waktu jalan-jalanmu dan waktu bersantai berkurang, kamu harus rela bercape-cape setiap hari. Setelah menghitung biayanya, maukah kamu berkorban? Apabila tidak jangan lakukan, jangan membuat komitmen yang kamu tau akan kamu langgar. Cara yang lebih baik adalah dengan menjadikan sasaranmu lebih mudah dicapai, sehingga biaya yang kamu bayar akan bisa kamu penuhi.
2.        Tuliskan, karena sasaran yang tidak dituliskan hanya akan jadi angan-angan.
3.        Laksanakan, karena tidak ada yang sifatnya coba-coba. Kamu harus melakukan apa yang kamu inginkan. Jangan bilang, “akan saya coba”, tapi katakan, “akan saya lakukan”. Seperti ketika pasanganmu menanyakan apakah kamu mau menikahinya, lalu kamu jawab “akan saya coba”, bagaimana perasaanya???
4.        Gunakan momentum yang tepat, yaitu saat awalan dan akhiran. Contohnya tahun baru sebagai awalan atau putus hubungan yang menandai akhiran. Dengan memanfaatkan momentum itu kamu akan bisa melaksanakan sasaranmu dengan efektik.
5.        “Ikatkan” dirimu dengan orang lain, artinya dalam mencapai tujuanmu, kamu harus memberitahukan apa yang kamu lakukan kepada orang lain sehingga mereka bisa membantumu. Apabila kamu ingin pintar, bicarakan hal itu dengan orang tua, guru, teman bahkan dengan pacarmu, maka kamu bisa didukung orangtuamu, diberi les olah gurumu, berdiskusi dengan temanmu, bahkan mendapat dorongan dari pacarmu. Menjadi lebih mudah bukan?
Satu hal yang harus kamu perhatikan adalah sebaiknya kamu tidak mengacuhkan kelemahanmu, karena yang harus kamu lakukan adalah kembangkan seluruh talentamu (bakatmu) dan gunakan kelemahanmu untuk menjadi kekuatan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Selain itu, takdir kita belum ditentukan sampai kamu melakukan hal yang kamu bisa lakukan, karena itu jadikan hari kita luar biasa dan tinggalkan warisan yang abadi kepada penerus kita dengan mencapai tujuan yang sangat luar biasa. Pendidik Maren Mouritsen mengatakan, “Kebanyakan dari kita takkan pernah melakukan hal-hal besar. Akan tetapi kita bisa melakukan hal-hal kecil dengan cara yang besar”.
Kebiasaan 3 : Dahulukan yang Utama
Kebiasaan 3 : Dahulukan yang Utama adalah soal belajar menentukan prioritas dan mengatur waktumu sehingga yang penting didahulukan, buka ditunda. Tapi kebiasaan ini lebih dari sekedar mengatur waktu, melainkan juga soal belajar mengatasi ketakutan dan bertahan di saat yang sulit.
Kita punya sederet sasaran serta niat baik, tetapi untuk melaksanakan dan mendahulukannya sangat sulit. Karena itu  kebiasaan 3 memerlukan daya kemauan(kekuatan untuk mengatakan ya kepada hal-hal yang paling penting bagimu) dan daya menolak (kekuatan untuk mengatakan tidak kepada hal-hal yang kurang penting dan terhadap tekanan sesama).
Ketika mengepak koper, kita akan menemukan bahwa masih banyak yang bisa kita masukkan asal ditata dengan rapi ketimbang dimasukan dengan sembarangan. Begitu pula dengan hidup, ketika ditata dengan baik, kita akan menemukan bahwa akan lebih banyak waktu untuk keluarga, teman, dan lain-lain. Berikut adalah suatu model Kuadran Waktu yang diciptakan Sean Covey :
Penting – hal-hal yang paling penting bagimu, kegiatan-kegiatan utama bagimu, yang berkontribusi terhadap tercapainya misi serta sasaranmu.
Mendesak – hal-hal yang menekan, yang menuntut perhatian segera.

Mendesak
Tidak Mendesak
Penting
Orang yang suka menunda-nunda
· Ujian besok
· Teman terluka
· Terlambat masuk kerja
· Mobil mogok
Orang yang suka menentukan prioritas
· Merencanakan, menetapkan sasaran
· Olahraga
· Membina hubungan
Tidak Penting
Orang yang “Yes-Man”
· Telepon yang tidak penting
· Interupsi
· Masalah kecil orang lain
· Tekanan sesama
Orang Pemalas
· Terlalu banyak nonton TV
· Ngobrol di telepon lama-lama
· Shoppingholic
· Buang-buang waktu
Sekarang pikirkan dan tanyakan pada diri sendiri, “Ke dalam Kuadran Waktu manakah aku paling banyak menghabiskan waktuku?”
Kuadran 1 (K1) : Orang yang suka menunda-nunda
Memang ada hal-hal yang perlu dilakukan dalam K1, misalnya menolong anak yang tertabrak. Akan tetapi ketika kita menunda-nunda mengerjakan PR lalu harus mengerjakannya semalaman, kita akan kelabakan. K1 adalah orang yang suka menunda-nunda pekerjaan. Motonya adalah, “aku akan berhenti menunda-nunda – nanti”. Orang ini suka mengerjakan pekerjaan di saat-saat kritis pada menit-menit terakhir. Akan tetapi ini membuatnya semangat dan bisa sukses di bawah tekanan. Merencanakan sebelumnya sangat susah dilakukan orang ini, karena akan merusak kesenangan mengerjakan di menit-menit terakhir.
Akibat kebanyakan menghabiskan waktu di K1 adalah:
Stress dan cemas
Kelelahan
Prestasi yang biasa-biasa saja.

Kuadran 3 (K3) : 
Orang yang “yes-man”
K3 mewakili hal yang mendesak, tetapi tidak penting. Cirinya adalah dia berusaha menyenangkan semua orang dan menanggapi semua keinginan mereka. K3 penuh dengan hal-hal yang penting bagi orang lain, tetapi tidak untukmu. Yes-man sulit mengatakan tidak pada orang lain, berusaha menyenangkan mereka, akan tetapi biasanya malah tidak menyenangkan siapapun.
Kalau teman-temannya datang mendadak dan mengajaknya begadang, dia tidak dapat menolak meskipun besoknya dia menghadapi ujian dan perlu belajar serta tidur. Atau dia tidak mau ikut tim renang, dia lebih memilih kesenaian, tapi karena ayahnya seorang perenang, maka dia tidak mau mengecewakan ayahnya. Akibat kebiasaan menghabiskan waktu di K3 adalah :
Reputasi sebagai “tukang menyenangkan orang lain”.
Kurang disiplin.
Merasa seperti keset kaki bagi orang lain yang menginjak-injaknya.

Kuadran 4 (K4) : Pemalas
K4 adalah kategori kesia-siaan. Kegiatannya sama sekali tidak mendesak dan tidak penting. Si Pemalas melakukan semua dengan berlebihan, terlalu banyak nonton TV, tidur, main video game, dan online. Memang benar nonton, chatting, atau shopping adalah bagian dari hidup sehat, akan tetapi kalau dilakukan berlebihan maka akan menjadi sebuah kesia-siaan besar.
Akibat hidup dalam K4 adalah :
Kurang bertanggungjawab.
Rasa bersalah.
Malas.

Kuadran 2 (K2) : Orang yang suka menentukan prioritas
K2 adalah hal-hal penting tetapi tidak mendesak, seperti olahraga, relaksasi, membangun hubungan, mengerjakan PR … tepat waktu. Kuadran inilah seharusnya kita berada. Kesulitannya adalah pekerjaan K2 penting, akan tetapi tidak mendesak. Karena itu lah orang yang menentukan prioritas berdiri dalam kuadran ini. Orang ini tidak sempurna, akan tetapi dia mawas diri. Dia menentukan apa yang perlu dilakukan, menyusun prioritas. Dengan merencanakan, misalnya, dia dapat mengendalikan segalanya. Dengan mengerjakan PR tepat waktu, dia dapat mengerjakan yang terbaik dan terhindar dari stress dan kelelahan. Dia berolahraga teratur, meskipun harus mengorbankan hal-hal lain. Ia suka nonton, online di internet, dan membaca novel, tetapi tidak berlebihan. Dia belajar mengatakan “tidak” sambil tersenyum, karena mungkin penolakan tidak akan membuatnya populer, tetapi akhirnya orang akan menghormatinya.
Akibat hidup di K2 :
Hidup terkendali.
Keseimbangan.
Prestasi tinggi.
Untuk memulai, sebaiknya kamu membuat agenda. Pertama buatlah rencana mingguan, karena rentang waktunya pas. Ada 3 langkah yang perlu dilakukan :
1. Rencanakan “batu besar”-mu, yaitu hal-hal penting yang akan kamu lakukan. Jangan terlalu banyak, fokuskan hal yang dapat kamu selesaikan, realistis dan susun agar tidak lebih dari sepuluh atau lima belas.
2. Jadwalkan waktu untuk “batu besar” tersebut. Hal ini penting karena apabila kamu tidak menjadwalkannya, ada kemungkinan waktumu tersita pada hal-hal yang lain yang kurang penting.
3. Jadwalkan segala hal lainnya. Setelah batu besar terjadwal, jadwalkan hal lain yang kamu inginkan.
Apabila sudah selesai, laksanakan, dan mungkin kamu juga perlu sekali-sekali menyusun kembali agenda itu agar lebih terarah.
Kebiasaan 3 
selanjutnya adalah mengatasi ketakutan dan tekanan sesama. Seseorang memiliki wilayah aman yang seringkali sulit untuk ditinggalkan. Wilayah aman itu bebas risiko, mudah dan tidak membutuhkan upaya ekstra. Sebaliknya, ada wilayah berani yang mencakup petualangan, risiko dan tantangan. Segala yang membuatmu tidak nyaman ada di sini. Dengan memasuki wilayah berani kita, hidup tidak akan membosankan, dan kita mendapatkan pengalaman baru. Apabila kita tidak pernah masuk ke dalam wilayah ini, suatu saat ketakutan kita akan membuat keputusan untuk kita. Pernahkah kita gagal menjadi ketua OSIS karena takut berbicara di depan umum, atau takut berkenalan dengan gadis yang kamu suka, atau takut masuk tim basket karena takut bersaing? Karena ketakutan maka kamu kehilangan kesempatan menjadi ketua OSIS, berkenalan dengan gadis mu, dan gagal menjadi olahragawan.
Dalam memasuki wilayah berani ini, bukan orang lain yang harus kamu perhatikan, akan tetapi kamu harus menaklukan dirimu sendiri dan mencapai keberanian yang kamu perlukan. Jangan pedulikan orang lain, yang penting kamu telah berhasil menaklukan dirimu sendiri. Yang terpenting adalah “Menang itu tidak lebih dari bangkit lagi setiap kamu gagal”.
Pujangga Robert Frost menulis, “Ada dua jalan di hutan, dan aku pilih jalan yang lebih jarang dilalui orang, dan itulah yang membuat perbedaan”. Dalam menghadapi tekanan negatif sesamamu yang menyuruhmu melakukan hal yang tidak kamu inginkan, kamu harus mengeluarkan seluruh keberanianmu. Kamu harus berani mengambil sikap untuk menolaknya. Akan tetapi tidak semua tekanan itu buruk, karena apabila kamu mendapatkan tekanan positif dari temanmu, kamu malah harus mengikutinya untuk menjadi lebih baik.
Mendahulukan hal-hal yang utama ini membutuhkan disiplin, disiplin untuk mengatur waktu, disiplin untuk mengatasi ketakutanmu, disiplin untuk menguatkan hatimu di saat-saat sulit dan menolak tekanan sesama. Menjadi orang sukses tidaklah mudah, karena kamu perlu menjalani hal-hal yang mungkin kamu benci. Apakah kamu pikir pemain piano menikmati latihan selama berjam-jam, atau seorang juara kelas senang belajar sampai larut malam agar dapat nilai yang bagus? Semua hal yang ingin kita capai memiliki harga masing-masing, karena itu hitunglah harganya sebelum kamu melakukannya.

Kebiasaan 4 : Berpikir Menang-Menang (Win-Win)

Apabila kebiasaan 1, 2 dan 3 lebih mengacu pada pengembangan diri, maka kebiasaan selanjutnya adalah bagaimana cara kita bersikap terhadap orang lain di sekeliling kita.
Kebiasaan 4 : Berpikir Menang-Menang adalah sikap terhadap kehidupan suatu cara berpikir yang mengatakan bahwa saya bisa menang, kamu pun bisa menang. Bukan saya atau kami, tapi sama-sama. Dasar pemikirannya adalah keyakinan bahwa kita semua sama, tidak ada yang lebih rendah dan unggul dari yang lain.
1.        Berpikir Menang/Kalah
Berpikir Menang/Kalah yaitu sikap terhadap kehidupan yang mengatakan bahwa jue sukses itu sudah tetap besarnya, dan kalau kamu mendapatkan potongan besar, sisanya tinggal sedikit untuk saya. Karena itu saya akan memastikan mendapat potongan besar itu lebih dulu. Menang/Kalah cenderung kompetitif. Dia tidak peduli seberapa baiknya dia, asalkan dia lebih tinggi dari orang lain. Ciri-ciri Menang/Kalah ini antara lain :
Ø  Menggunakan orang lain, baik secara emosional maupun secara fisik demi tujuan sendiri yang egois.
Ø  Berusaha maju atas pengorbanan orang lain.
Ø  Menyebarkan kabar burung tentang orang lain.
Ø  Selalu memaksakan kehendak tanpa memikirkan orang lain.
Pada akhirnya, biarpun kamu menang, kamu akan sendirian tanpa teman.
2.        Kalah/Menang
Kalah/Menang seperti keset kaki, membiarkan orang lain menginjak-injak dirinya, dengan dalih menjadi pembawa damai. Mengalah terhadap tekanan sesama, seperti apabila kelompokmu membolos dan kamu mengalah untuk ikut meskipun kamu tidak mau, menunjukkan kamu Kalah/Menang, kamu kalah dan mereka menang. Apabila ini terus berlanjut, maka kamu akan selalu diinjak-injak orang.
Memang sekali-sekali kalah tidak masalah, asalkan itu untuk hal-hal kecil. Akan tetapi jangan sampai kamu terperangkap dalam hubungan yang melecehkan, sehingga kamu selalu saja terpaksa menuruti kemauan orang. Pastikan kamu memegang kendali dalam hal-hal penting.
3.        Kalah/Kalah
Kalah/Kalah mengatakan bahwa “Apabila aku harus jatuh, kamu juga harus jatuh”. Toh, orang sengsara senang ditemani. Dendam adalah contoh yang nyata. Apabila kamu membalas dendammu, kamu mungkin berpikir menang, padahal sebetulnya kamu menyakiti dirimu sendiri.
Kalah/Kalah juga bisa terjadi apabila seseorang terobsesi dengan orang lain secara negatif, contohnya sepasang kekasih. Apabila mereka sudah terikat dalam hubungan emosional dan saling tergantung, biasanya menjadi posesif dan cemburuan. Akhirnya ketergantungan ini menimbulkan yang terburuk, mereka sering bertengkar, berdebat, “saling membalas” sehingga menimbulkan sikap Kalah/Kalah.
4.        Menang-Menang
Menang/Menang adalah keyakinan bahwa semua orang bisa menang. Kamu memedulikan orang lain sebanyak kamu memedulikan dirimu sendiri. Contoh-contoh sikap Menang/Menang antara lain :
v  Kamu dipromosikan menduduki jabatan baru, kemudian kamu bagi pujian dan pengakuannya kepada semua orang yang membantumu dipromosikan.
v  Kamu ingin makan keluar, temanmu ingin nonton. Akhirnya kamu sama-sama memutuskan akan menyewa film dan membeli makan untuk dimakan di rumah.
v  Sahabat terbaikmu diterima di kampus pilihanmu, sedangkan kamu tidak. Walaupun sedih, kamu ikut bersuka cita atas keberhasilan temanmu itu.
Agar dapat berpikir Menang/Menang, pertama kamu harus memenangkan kemenangan pribadimu (Kebiasaan 1, 2, dan 3). Dengan menenangkan diri, maka kamu dapat berpikir lebih jernih terhadap diri sendiri. Kedua, hindari kecenderungan bersaing dan membanding-bandingkan. Persiangan memang diperlukan semua orang. Akan tetapi persaingan memiliki dua sisi. Persaingan akan sehat apabila kamu menantang diri kamu sendiri agar dapat mencapai sesuatu dengan mengerahkan kemampuan terbaikmu. Akan tetapi persaingan akan menjadi buruk apabila kamu mementingkan kemenangan lebih dari apapun sehingga menghalalkan cara yang salah. Selanjutnya, kecenderungan membanding-bandingkan dirimu dengan orang lain adalah hal lain yang harus dihindari. Kenapa kita harus membangding-bandingkan diri dengan orang lain? Kita semua berada pada jadwal perkembangan yang berbeda-beda, secara sosial, fisik dan mental. Hidup kita ini unik, dan masing-masing dari kita dilengkapi dengan hambatan-hambatan tersendiri. Jadi lebih baik menjadi diri kita sendiri dan berhenti membanding-bandingkan diri.
Terkadang seberapa keraspun mencoba, mencari solusi Menang/Menang. Atau pihak lain yang condong pada Menang/Kalah. Dalam hal ini, jangan ikut-ikutan bersikap Menang/Kalah atau bahkan Kalah/Menang. Lebih baik Menang/Menang atau Tidak Sama Sekali.
Mengembangkan sikap Menang/Menang memang tidak mudah. Kamu harus mencobanya sedikit demi sedikit. Kalau kamu baru bisa berpikir hanya 10% dari waktumu sekarang, mulailah meningkatkannya menjadi 20%, kemudian 30%, dan seterusnya. Akhirnya itu akan menjadi kebiasaan tanpa kamu perlu memikirkannya. Dan mungkin keuntungan yang paling mengejutkan dari berpikir Menang/Menang ini adalah perasaan senang yang ditimbulkannya ketika kita bisa menyenangkan orang lain dan kita sendiri mendapatkan keuntungan.
Kebiasaan 5 : Berusahalah Untuk Memahami Terlebih Dahulu, Baru Dipahami

Setiap manusia memiliki suatu keinginan terpendam di lubuk hatinya yang terdalam agar bisa dimengerti oleh setiap orang. Rasa ingin dimengerti ini menyangkut seluruh tindakan dan pemikiran yang dimilikinya. Setiap orang memiliki persepsi masing-masing terhadap dunia, sehingga setiap orang akan memiliki perbedaan pemikiran yang kadang tidak bisa dimengerti oleh orang lain.
Dalam memahami perasaan orang lain, kita perlu menjadi seorang pendengar yang baik. Akan tetapi, seringkali kita tidak mendengarkan dengan baik. Ada lima gaya mendengarkan yang buruk, antara lain :
1.        Mengawang-awang, gaya mendengarkan dimana seseorang yang sedang terlibat pembicaraan melamun (mengawang-awang) sehingga tidak mendengarkan sama sekali apa yang dikatakan oleh lawan bicaranya.
2.        Pura-pura mendengarkan, gaya seorang pendengar yang hampir tidak mengacuhkan apa yang dikatakan lawan bicaranya dan membalas dengan tidak peduli.
3.        Mendengarkan secara selektif, gaya seseorang yang hanya mendengarkan apa yang ingin dia dengarkan dan menanggapi hanya bagian apa yang dia perhatikan tersebut.
4.        Mendengarkan kata per kata, yaitu gaya mendengarkan seseorang tepat seperti apa yang lawan bicaranya katakan, tanpa memperhatikan bahasa tubuh atau nada perasaan yang sebenarnya mempunyai arti berbeda.
5.        Mendengarkan yang terpusat pada diri sendiri, yaitu gaya mendengarkan dengan menuruti keinginan sendiri dan tidak berusaha memahami apa yang ingin disampaikan lawan bicara. Gaya ini seringkali malah menimbulkan perasaan yang tidak nyaman kepada lawan bicara. Gaya bicara ini biasanya ditandai dengan beberapa sikap, yaitu menghakimi secara sepihak, menasihati dan menggali tentang keadaan lawan bicara. Hal ini sudah jelas sangat tidak menyenangkan bagi lawan bicara.
Apabila kita menunjukkan sikap seperti di atas, dijamin orang yang berbicara dengan kita akan merasa tidak diperhatikan. Teknik mendengarkan yang baik adalah dengan mendengarkan dengan tulus, antara lain :
1.        Dengarkan dengan telinga, mata dan hati. Seseorang dalam menyampaikan sesuatu sesungguhnya tidak hanya lewat kata-kata. Kita hanya dapat menangkap sekitar 4% maksud seseorang melalui kata-kata. Akan tetapi kita dapat memahami sebanyak 40% dari nada perasaannya bahkan sebanyak 53% dari memperhatikan bahasa tubuhnya. Oleh karena itu, untuk memahami orang lain dengan lebih baik, pahamilah percakapan melalui telinga, mata dan hati kita.
2.        Selami perasaan mereka. Setiap dari kita memandang dunia melalui kacamata yang berbeda. Apabila kamu memakai kacamata berwarna biru dan temanmu memakai kacamata berwarna merah, pasti dia akan mengatakan bahwa air danau itu berwarna merah. Begitu pula sebaliknya kamu pasti akan mengatakan bahwa air danau berwarna biru sesuai dengan kacamatamu. Begitulah keadaan kita. Untuk memahami orang lain, kita perlu menyamakan warna kacamata kita seperti miliknya. Dengan mencoba memahami sudut pandang mereka, kita pasti akan tahu pemikiran seperti apa yang dimilikinya dan akhirnya kita akan memahami orang lain lebih baik.
3.        Bersikap seperti cermin. Ini adalah cara yang mengulangi kata-kata yang diucapkan orang dengan kata-kata kita sendiri. Cara ini akan menyebabkan lawan bicara kita merasa diperhatikan saat berbicara, sehingga dia akan membuka diri kepada kita. bersikap seperti cermin bukan mengulang kata-kata persis seperti apa yang diucapkan orang lain, akan tetapi mengulang dengan kata-kata kita sendiri sesuai dengan apa yang kita tangkap.
Contoh percakapan :
“Kamu tidak boleh keluar malam ini dengan teman-temanmu”, kata Ayah.
Apabila kamu bersikap biasa, mungkin kamu akan mengatakan, “Ayah tidak adil, padahal aku sudah mengikuti keinginan Ayah selama ini”, atau kata-kata lain. Di saat inilah kita perlu bersikap seperti cermin, ulangi kata-katanya dengan kata-katamu.
“Ayah sedang kesal ya?”
“Tentu saja Ayah kesal. Nilai-nilaimu menurun selama semester ini, padahal Ayah selalu memenuhi apapun permintaanmu.”
“Ayah mengkhawatirkan aku ya?”
“Iya lah, Ayah tidak mau kamu gagal masuk Universitas. Jangan seperti Ayah yang tidak bisa sekolah sehingga harus bersusah payah mencari uang seperti sekarang.”
“Ayah sangat memperhatikan masa depanku ya?”
“Tentu saja. Kamu juga seharusnya memperhatikannya lebih baik. Sepertinya tidak apa-apa kalau kamu keluar malam ini, asalkan kamu berjanji nilai-nilaimu akan naik kembali.”
Mungkin tidak sesederhana itu, tetapi biasanya begitu. Dengan berlaku seperti cermin, lawan bicara akan merasa dihargai dan diperhatikan, sehingga dia akan merasa tidak terlalu buruk apabila membiarkan kita melakukan apa yang kita inginkan.
Bersikap seperti cermin tidak harus dilakukan setiap saat, karena akan menghabiskan waktu kita. Sebaiknya sikap ini dilakukan apabila kita sedang benar-benar akan mendengarkan perasaan lawan bicara kita yang menghadapi masalah berat. Sikap ini tidak diperlukan apabila hanya percakapn ringan atau percakapan sehari-hari.
Dengan memahami perasaan lawan bicara kita, orang tersebut secara tidak sadar akan membuka hatinya untuk mendengarkan apa yang akan kita katakan. Apabila lawan bicara belum merasa dipahami, akan sulit baginya membuka diri dan menerima apa yang akan kita katakan. Dengan memahami lawan bicara terlebih dahulu, kita akan mendapatkan kepercayaan yang lebih dari orang tersebut.
Hanya berusaha memahami orang lain baru setengah dari kebiasaan 5 ini. Setengah selanjutnya adalah Berusaha Untuk Dipahami. Diperlukan keberanian untuk berbicara di depan umum, akan tetapi diperlukan keberanian yang lebih besar untuk berbicara secara umum. Apabila kita sudah bisa memahami lawan bicara kita, tentu kita ingin agar apa yang kita katakan bisa didengarkan oleh orang lain. Akan tetapi ada 2 syarat agar perkataan kita bisa dipahami oleh orang lain. Yang pertama adalah apakah perkataan kita dapat memberikan manfaat bagi dan feedback bagi lawan bicara kita. Sedangkan yang kedua adalah sampaikan dari sudut pandang “saya”, bukan malah mengatakan “kamu”, sehingga akan memberikan gambaran bahwa apa yang kita katakan berasal dari pikiran kita dan tidak semata-mata menghakimi lawan bicara kita.




Kebiasaan 6 : Prinsip Kerjasama Kreatif

Latihan dari kebiasaan-kebiasaan yang lain telah mempersiapkan kita
untuk bersinergi. Sinergi bermakna keseluruhan adalah lebih besar dari pada jumlah setiap
bagiannya. Suatu hubungan yang mana bagian-bagian yang memiliki
setiap bagian lainnya adalah suatu bagian yang ada di dalamnya dan
merupakan dirinya sendiri - bagian yang besar wewenangnya, menyatu
dan menggairahkan.

Intisari dari sinergi adalah perbedaan nilai-nilai - dengan menghormatinya,
membangun kekuatan, dan mengkompensasikan kelemahan.
Jalan untuk menacapai sinergi melalui proses kreatif, yang bisa menakutkan,
karena kamu tidak pernah tahu kemana proses kreatif akan membawamu.

Komunikasi Sinergis
Komunikasi sinergis adalah membuka pikiran dan hatimu menuju kemungkinan
baru. Sepertinya mirip kamu melepaskan bisikan “memulai
awal di pikiran”, tetapi nyatanya dipenuhi oleh sasaran dan penemuan
yang lebih baik.

Sebagian besar ikhtiar kreatif adalah sesuatu yang tidak bisa diprediksikan,
dan jika bukan karena orang-orang memiliki toleransi yang tinggi
terhadap ambiguitas (tak tetap azas) dan mengambil rasa amanya dari
nilai integritas dan kedalaman jiwa, mereka akan menemukan hal yang
tidak menyenangkan untuk bergabung dalam perusahaan dengan kreativitas tinggi.

Butuh waktu untuk benar-benar menyusun tim, membuat catatan bank
emosi, agar kelompok bisa menjadi rajutan yang rapat. Rasa hormat diantara
anggota bisa menjadi tinggi jika ada ketidak-setujuan, bisa menjadi
upaya-upaya murni untuk saling memahami.

Kepercayaan tinggi akan menuntun kepada komunikasi dan kerjasama
yang tinggi. Titik kemajuan komunikasi adalah bertahan (menang atau
kalah/menang), penuh pernghormatan (kompromi), sinergis (menang/
menang). Komunikasi sinergis harus dicapai untuk mengembangkan
kemungkinan kreatif, termasuk penyelesaian yang lebih baik daripada
proposal aslinya. Jika sinergi tidak tercapai, kadang upaya selalu berhasil
dalam kompromi yang lebih baik.

Sinergi dalam Ruang Kelas
Suatu kelas sinergis bergerak dari suatu lingkungan yang tenang ke
keadaan ber-ungkapan pendapat (brainstorming). Spirit evaluasi menjadi
bawahannya spirit jejaring kreativitas, angan-angan dan intelektual. Kemudian
kelas sepenuhnya ditransformasikan dengan kegairahan dari arah
baru. Ini bukan terbang dengan khayalan, namun hal pokok.
Di waktu lain, pada suatu kelas mungkin dikenalkan bentuk sinergi, namun
didorong menuju kekacauan. Sinergi membutuhkan persenyawaan
yang benar dan kedewasaan emosi dalam kelompok untuk berkembang.

Sinergis dalam Bisnis
Kegairahan bisa menggantikan pertukaran dengan rasa hormat dan ego
perang. Namun pengalaman sinergis secara khusus jarang bisa dibuat.
Lebih sering, pengalaman baru harus dicari.
Dengan membuat pernyataan misi sinergis, hal yang terukir di hati dan
pikiran partisipan.

Memancing untuk Alternatif Ketiga
Jalan “tengah” mungkin tidak bisa dikompromikan, namun ada alternatif
ketiga, bagaikan puncak suatu segitiga.
Dengan pencarian bersama untuk mengerti dan dimengerti, partisipan
mengumpulkan keinginannya. Mereka bekerja sama pada sisi yang sama
untuk membuat alternatif ketiga, untuk mempertemukan kebutuhan setiap orang.
Malahan dari suatu transaksi, bisa menjadi transformasi. Setiap partisipan
mengambil apa yang mereka inginkan, dan mereka membangun
hubungannya dalam suatu proses.

Sinergi Negatif
Pendekatan menang/kalah yang bisa menghasilkan pengeluaran energi
negatif. Ini seperti mencoba menyetir dengan kaki satu di pedal gas, yang
lain di pedal rem. Malahan jika menekan rem, banyak orang memberikan
gas. Mereka akan memberikan tekanan lebih banyak untuk menguatkan
posisi mereka, membuat lebih banyak perlawanan. Kontras dengan
pendekatan kooperatif akan mampu mencapai sukses.

Masalahnya adalah banyaknya orang bebas yang mencoba kesuksesan
dalam realitas saling-ketergantungan. Mereka bicara teknik menang/
menang, namun dengan memanipulasi yang lainnya. Orang yang gelisah
ini ingin menggabungkan jalan pikirannya kepada yang lain.
Kunci sinergi antar pribadi (interpersonal) adalah sinergi antar pribadi-
pribadi (intra personal) - sinergi dalam diri kita sendiri untuk membantu
menacapai sinergi dengan yang lainnya. Jantung dari sinergi intrapersonal
adalah habit ketiga yang pertama, yang memberikan kecukupan
keamanan internal untuk mengendalikan resiko karena menjadi terbuka
dan mudah kena serang. Sebagai tambahan, dengan belajar menggunakan
otak kiri: logika, dengan otak kanan: emosi, kita mengembangkan
sinergi psikis yang cocok terhadap realitas, yang bersifat logis dan emosional.

Menghargai Perbedaan
Intisari sinergi adalah menghargai perbedaan mental, emosional dan
pskologis diantara orang-orang. Kunci untuk menghargai perbedaan itu
adalah menyadarkan bahwa semua orang memandang dunia, tidak sebagaimana
adanya. namun sebagaimana mereka (perbedaan dalam memandang).
Orang yang benar-benar efektif memiliki kerendahan hati dan menghargai
untuk mengenali batasan persepsi yang dimilikinya dan menyadari
kekayaan akal/sumber yang tepat melalui interaksi hati dan pikiran dari
sisi kemanusiawian yang lain.

Dua orang bisa tidak setuju dan keduanya bisa benar adalah sesuatu
yang tidak logis, ini psikologis. Dan ini kenyataan. Kita melihat sesuatu
yang sama, tetapi menginterprestasikan secara berbeda, keadaan kitalah
yang menyebabkannya. Jika tidak, kita menilai perbedaan dalam persepsi
kita dan berusaha mengerti bahwa hidup tidak selalu sesuatu yang dikotomi
(benar atau salah) dan/atau, disana ada alternatif ketiga, kita tidak
akan pernah mampu melebihi ambang batas kondisi kita.
Jika dua orang memiliki opini yang sama, sesuatu yang tidak penting.
Jika demikian, bila saya menjadi sadar terhadap perbedaan dalam persepsi
kita, saya berkata “Hebat! Bantu aku melihat apa yang kau lihat.” Dengan
mengerjakannya, saya tidak hanya mengembangkan kewaspadaan,
tapi saya juga mengiyakan. Saya memberimu hawa psikologis. Saya
membuat suatu lingkungan untuk bersinergi.

Menekankan Analisis di Lapangan
Sesuai dengan Kurt Lewin, seorang sosiologis, tahapan sekarang
dari unjuk kerja atau keberadaan kita adalah posisi keseimbangan, antara
tekanan untuk menjalankan dorongan pergerakan naik dan menahan
tekanan untuk turun.

Dorongan (driving force) adalah positif, bersifat pribadi, dan berkesadaran.
Menahan (restraining force) adalah negatif, emosional, tidak
berkesadaran, bersifat sosial/psikologis. Kedua tekanan harus bersangkutan
dengan perubahan.
Menaikan dorongan akan memberikan hasil sementara. Kadang,
tekanan menahan akan beraksi mirip pegas yang membalikkannya ke tahap
semula.

Untuk menghasilkan sinergi, konsep menang/menang, sinergi pengertian
dan pencarian bersama digunakan untuk bekerja langsung pada dorongan
menahan. Kalo begitu libatkan orang dalam proses, sehingga mereka
mengerti, apa yang menjadikan permasalahan. Mereka akan berlaku
menjadi bagian penting dari solusi. Sebagai suatu hasil, berbagai sasaran
bisa diciptakan, sehingga perusahaan bisa bergerak maju.
Proses legal harus menjadi pilihan terakhir, bukan pertama, ditempatkan
paling akhir karena membuatnya menjadi blok-blok, membuat sinergi
hal yang tidak mungkin menjadi nyata.

Semua Kondisi Alam adalah Sinergis
Ekologi, adalah sesuatu yang saling berhubungan, yang menjelaskan
prinsip sinergi di alam. Hubungan kekuatan kreatif perlu dimaksimalkan.
Tujuh kebiasaan juga saling berhubungan dan memiliki kekuatan besar
ketika digunakan bersama.
Sinergi adalah pencapaian puncak dari kebiasaan-kebiasaan sebelumnya.
Efektivitas dalam realitas saling-ketergantungan.
Banyak sinergi ada dalam Lingkaran pengaruhmu. Kamu bisa menilai
baik sisi analitis dan kreatifitas milik sendiri. Kamu bisa mengesampingkan
energi negatif dan mencari yang baik di sisi lainnya. Kamu bisa
berteguh hati menyampaikan ide dalam situasi saling-ketergantungan.

Kamu bisa menghargai perbedaan di tempat lain ketika kamu melihat
hanya ada dua alternatif, punyamu dan sesuatu yang “salah”. Kamu bisa
mencari suatu alternatif sinegis ketiga.


Kebiasaan 7 : Keseimbangan Pembaharuan-Diri


Cobalah kamu datang kepada seseorang yang bekerja di perkayuan untuk
menggergaji pohon. Mereka sedang bekerja dengan sangat lelah berjam-
jam. Ajaklah agar mereka berhenti sejenak untuk mengasah gergaji.
Mereka akan menjawab, “Saya tidak punya waktu untuk menajamkan
gergaji, saya sedang sibuk menggergaji!”
Habit 7 adalah mengambil waktu untuk mengasah gergaji. Dengan
memperbaharui empat dimensi dari sifat alamimu - fisik, spiritual, mental
dan sosial/emosional, kamu bisa bekerja lebih cepat dan tanpa kesulitan.
Untuk mengerjakannya, kita harus proaktif. Ini adalah aktivitas Kuadran
II (penting, namun tidak urgen) yang harus diaktifkan. Itu adalah pusat
dari Lingkaran Pengaruh, maka kita mesti mengerjakannya untuk diri
kita sendiri.

Dimensi Fisik
Dimensi fisik menyangkut merawat tubuh - makan makanan sehat, cukup
istirahat dan santai, dan berolah raga secara teratur.
Jika kita tidak punya program olah raga teratur, pada akhirnya kita
akan membiarkan masalah kesehatan muncul. Program baru harus dimulai
secara bertahap, sesuai dengan penemuan riset terbaru.
Keuntungan terbesar dari merawat diri sendiri adalah pengembangan
“otot” Habit 1 dari proaktivitas.

Dimensi Spiritual
Dimensi spiritual adalah pusatmu, komitmen untuk sistem nilaimu. Ia
tergambar di atas sumber yang menginspirasi dan mengangkatmu serta
mengikatmu pada kebenaran manusia yang abadi.
Seorang dokter menyarankan kepada Covey untuk mencoba empat tahap
resep di setiap interval tiga jam di tempat favoritnya, sebagai seorang
anak kecil. Dengarkan seksama, coba ingat kembali, dan catat kecemasanmu
di pasir.

Ketika kita meluangkan waktu untuk menggambarkan pusat kepemimpinan
dari hidup kita, apa yang menjadi pokok kehidupan, itu akan
mengembang bagaikan payung yang menaungi apapun di bawahnya. Inilah
mengapa suatu pernyatan misi pribadi begitu penting.

Dimensi Mental
Adalah penting untuk menjaga ketajaman pikiranmu dengan membaca,
menulis, mengelola dan merencanakan. Kumandangkan dan perlihatkan
dirimu terhadap pemikiran-pemikiran yang besar.

Televisi adalah hambatan terbesar dari pembaharuan mental. Banyak
dari program televisi adalah pemborosan waktu.
Setiap hari kita harus membuat komitmen paling sedikit satu jam untuk
memperbaharui dalam tiga dimensi : fisik, mental, spiritual. Latihan
ini adalah sebuah “Kemenangan Pribadi Harian”.

Dimensi Sosial/emosional
Dimensi fisik, spiritual dan mental dekat hubungannya dengan habit
1, 2 dan3: visi pribadi, kepemimpinan dan manajemen. Dimensi sosial/
emosional memfokuskan pada Habit 4, 5 dan 6: prinsip kepemimpinan
pribadi, komunikasi empati dan kerjasama kreatif.
Kehidupan emosional kita adalah pertama yang dikembangkan dan
dimuat dalam hubungan dengan yang lain. Pembaharuan dimensi sosial/
emosional memerlukan perhatian dan latihan dalam interaksi kita dengan
orang lain.

Sukses dalam Habit 4, 5 dan 6 adalah, tidak terutama suatu persoalan
intelektual, tetapi emosi; ini sangat berhubungan dengan perasaan
keamanan pribadi. Rasa keamanan yang hakiki datang dari dalam, dari
paradigma yang akurat dan prinsip yang benar dalam pikiran dan hati
kita. Ini datang dari hidup dalam integritas kehidupan, dimana kebiasaan
harian akan terefleksikan pada nilai-nilai pribadi yang terdalam.

Disana juga ada rasa aman hakiki yang datang sebagai hasil dari kehidupan
saling-ketergantungan yang efektif dan dari melayani, dari membantu
orang lain di jalan yang bermakna. Setiap hari, kita bisa melayani
orang lain dengan membuat tabungan cinta tak bersyarat.

Menulisi Jalan Cerita Orang Lain
Kebanyakan orang hidup dengan cara reaktif berdasarkan pada cermin
sosial. Naskahnya didasarkan pada opini, resep, dan paradigma dari orang
sekelilingnya. Sebagai orang yang saling-ketergantungan, kita mengenali
aturan kita sebagai bagian dari cerminan sosial.
Kita bisa menegaskan alam proaktif dari orang lain dengan merawatnya
sebagai orang yang berdaya tanggap. Kita bisa membantu mendukungnya
sebagai individu yang berpusat pada prinsip, berdasar nilai, saling-
tergantung, dan bermanfaat.

Ada cerita dari murid yang “cemerlang” dan “lambat” tercampur-aduk,
guru dari kelompok anak-anak “lambat” secara keliru mengklasifikasikan
sebagai “cemerlang” berkata, “Untuk beberapa alasan, metoda kita
tidak bekerja, maka kita merubah cara kita.” Nilai IQ dari murid secara
dramastis meningkat. Ketidak-mampuan pembelajaran yang jelas adalah
nyata-nyata menjadi guru yang kaku.
Goethe mengajarkan, “Perlakukan seorang manusia sebagaimana ia
adanya dan ia akan akan tetap seperti apa adanya. Perlakukan seorang
manusia sebagaimana ia bisa dan yang seharusnya dan ia akan menjadi
yang ia bisa dan seharusnya.”

Keseimbangan dalam Pembahruan.
Pembaharuan pribadi harus termasuk permbaharuan yang seimbang
dari ke-empat dimensi - fisik, spirit, mental dan sosial/emosional. Pengabaian
salah satu area memberi akibat negatif pada akhirnya.
Konsep yang sama juga terjadi pada organisasi. Proses perbaikan terus
menerus adalah ciri khas gerakan Total Quality dan suatu kunci pengaruh
masalah ekonomi seseorang.

Sinergi dalam Pembaharuan.
Sesuatu yang kamu kerjakan untuk mengasah gergaji salah satu dimensi
memiliki dampak terhadap dimensi lainnya, karena mereka sangat
erat keterkaitannya.
Kemenangan Pribadi Harian, pada tingkat minimum sejam setiap hari
untuk memperbaharui dimensi pribadi, adalah kunci untuk pengembangan
Tujuh Kebiasaan (Seven Habits) dan menyempurnakan lingkaran
pengaruhmu. Juga menjadi pondasi Kemenangan Pribadi Harian. Itu
adalah sumber dari keamanan hakiki yang kamu perlukan untuk mengasah
gergaji dalam dimensi sosial/emosional.

Spiral Menaik.
Pembaharuan adalah prinsip dan proses yang memperkuat kita untuk
bergerak menaiki spiral pertumbuhan dan perubahan, suatu perbaikan
terus menerus.

Pendidikan hati nurani adalah hal vital bagi pimpinan yang benar-benar
proaktif dan sangat efektif. Hati nurani adalah anugrah yang bisa merasakan
kesesuaian atau perbedaan (disparitas) kita dengan prinsip yang
benar dan mengangkat kita ke atas. Melatih dan mendidik hati nurani memerlukan
kelimpahan diri secara teratur pada literatur yang berimspirasi,
pengajaran pada pemikiran mulia, dan hidup dalam harmoni dengan suara-
kecilnya (tenang).
Dag Hammarskjold, Sekjen PBB yang telah lalu, berkata, “Siapa yang
ingin menjaga kerapian kebunnya tidak menyediakan tanahnya untuk
rumput. Hukum alam dari panen menentukan, mereka selalu memperoleh
apa yang ia taburkan -- tidak lebih, tidak kurang.
Bergerak sepanjang spiral keatas menyarankan kita untuk belajar,
berkomitmen dan mengerjakan bidang yang lebih tinggi secara meluas.

Lagi, Dari dalam Keluar
Kesimpulan
Disana ada ruang antara stimulus dan respon, dan kunci untuk kebahagiaan
dan pertumbuhan adalah bagaimana kita menggunakan ruang
diantaranya. Apakah kita merespon pada situasi secara positif, proaktif?
apakah kita sedang mengendalikan hidup milik kita?
Dalam pengendapan tentang ide ini menuntun Covey untuk memulai
komunikasi yang mendalam dengan istrinya, termasuk lebih banyak
diskusi dunia nyata dalam jiwanya. Ini adalah waktu dari penjelajahan
jiwa.

Mereka mengembangkan dua peraturan dasar. Pertama, “tak ada penyelidikan”,
hanya berupaya empati. Menyelidiki itu terlalu menyerang.
Kedua, adalah bila rasa sakit hati terlalu banyak, usahakan tenang hari
itu.
Bagian komunikasi tersulit dan tersukses datang bila perasaan sensitif
seseorang yang tersentuh. Mereka akan menemukan suatu perasaan baru
dari rasa hormat satu dengan lainnya. Mereka menemukan - nampaknya
- hal kebenaran sering menjadi akar dari pengalaman emosional yang
mendalam. Berurusan dengan hal yang sepele dan dangkal tanpa melihat
sesuatu yang lebih mendalam, isu-isu yang sensitif di hati bisa jadi sesuatu
yang menginjak-injak wilayah sakral hati orang lain.
Kemampuan menggunakan secara bijak ruang antara stimulus dan respon,
adalah melatih empat anugrah unik dari sisi manusiawi kita, membuat
kita bergerak dari dalam keluar. (empat anugrah itu adalah kesadaran
pribadi, imajinasi, hati nurani, dan kenginan untuk independen. Lihat